Lembaga Kontrol Itu Bernama Hati

Mengapa dakwah Rasulullah tidak dimulai dari pembenahan ekonomi? Andaikata dilakukan maka Mekah akan mengalami perkembangan yang luarbiasa. Dalam waktu  cepat Mekah akan menjadi kota berperadaban maju menyaingi Romawi dan Persia. Muhammad mampu melakukan ini karena beliau berasal dari kalangan Bani Hasyim yang terkenal kaya. Akan tetapi Rasulullah tidak melakukannya. Mengapa tidak dimulai dari perbaikan kelas sosial? Andaikata dilakukan maka beliau akan mendapatkan banyak simpatik dari kalangan tertindas yang pada waktu itu mendominasi strata sosial di Mekah. Tidak mustahil beliau bisa mendapatkan banyak pengikut dan dijadikan pemimpin bagi mereka. Dengan demikian dakwah akan mudah disampaikan karena beliau telah mendapatkan posisi yang strategis. Tetapi Rasulullah tidak melakukannya.

Justru, dakwah ini dimulai dari penanaman aqidah Islam. Seperti kita ketahui, kala itu masyarakat Mekah telah memiliki keyakinan sendiri warisan dari nenek moyang mereka. Keyakinan yang telah mengakar berpuluh-puluh tahun. Apabila ini diusik maka konsekuensinya adalah perlawanan. Rasulullah paham betul mengenai hal ini. Namun, jalan inilah yang tetap beliau tempuh. Mengapa demikian? Ataukah ini sudah menjadi ketetapan Allah dan Muhammad tinggal melaksanakan saja? Biar bagaimanapun juga, ketetapan Allah itu ada maksud dibaliknya. Inilah yang akan kita cari.

Aqidah berhubungan dengan hati. Prinsip iman kepada Allah dan RasulNya adalah  menyakini dalam hati ke-Esa-an Allah SWT dan ke-Rasul-an Muhammad. Ya, di dalam hati bukan di pikiran, bukan pula di ucapan saja. Sebab hatilah yang mengontrol pikiran di kepala kita, ucapan yang keluar dari mulut kita dan tindakan yang kita lakukan.

Manakala aqidah itu telah tertanam dengan baik dalam hati maka ia akan membentuk hati yang bersih dan suci. Hati yang bersih akan memunculkan pikiran, ucapan dan perbuatan baik dan bermanfaat. Sedangkan hati yang kotor akan melahirkan pikiran, ucapan dan tindakan buruk dan meresahkan. Dalam hal ini hati berfungsi sebagai ‘lembaga kontrol’ dalam diri kita.

Sebagaimana lembaga kontrol, sebelum  perbuatan itu dilakukan hati akan menilai baik atau buruk, bermanfaat atau meresahkan. Apabila baik, hati akan memerintahkan organ untuk melaksanakan perbuatan. Namun apabila meresahkan/buruk hati akan men cancel organ untuk berbuat. Kunci kesemua itu ada di hati. Ketika Nabi ditanya seorang sahabat tentang definisi kebajikan beliau malah menyuruh orang itu bertanya pada hatinya: “Mintalah fatwa dari hatimu. Kebajikan itu adalah apa-apa yang menentramkan jiwa dan menenangkan hati dan dosa itu adalah apa-apa yang meragukan jiwa dan meresahkan hati, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya”.

Seberapa besar nilai kebajikan yang kita lakukan bergantung dari seberapa bersih  dan seberapa dalam aqidah itu tertanam dalam hati kita. Wallahua’lam. (sd)

About Admin (sd)
Seorang manusia pembelajar dan pemburu hikmah

3 Responses to Lembaga Kontrol Itu Bernama Hati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: