Ketika Allah Memberiku Sakit

Siapa sih orang yang mau sakit? Saya yakin, kalau ditanya satu persatu pasti jawabnya gak mau. Soalnya berat lho menanggung sakit itu. Karena sakit kita tidak bisa sekolah, karena sakit mau kerja ogah-ogahan, karena sakit mau ngapa-ngapain males pengennya tidur terus. Itu baru sakitnya, belum ditambah keluhan dan rasa meng’aduh’nya. Komplit. Sudah sakit, mengeluh, jengkel serasa sakit itu semakin berat saja. Sakit flu ringan selama beberapa hari, kadang membuat kita selalu mengeluh. Kenapa sih saya kok sakit? Allah itu gak adil ya? sholat rutin, shodaqoh tiap hari, silaturahim jalan terus tapi kok diberi sakit? Itulah kita. Gak cukup mengeluh, bahkan sempat berprasangka buruk pada Allah. Padahal dalam Islam, tidak boleh lho kita bersikap demikian.

Ternyata sakit itu tidak menyenangkan ya….

Sakit, pernah aku alami. Bukan sekedar sakit ringan. Tapi cukup berat juga. Bahkan dokter mengharuskan operasi. Inilah sakit berat perdanaku dan pertamakalinya aku harus dioperasi. Ditambah lagi, waktu itu aku sedang berada di negeri orang. Jauh dari keluarga, sahabat. Hanya ada satu temanku yang selalu menemaniku dan menjengukku. Teman kerja, tapi aku merasa dia lebih dari itu. Di tengah kesibukan training yang ia ikuti, tapi sudi untuk meluangkan waktunya.

Hikmah. Inilah yang aku petik selama sakit. “barang berharga” yang tidak setiap orang dapatkan. Hikmah bisa diceritakan namun untuk memahami betul arti dibalik itu ternyata tidak mudah. Harus mengalaminya sendiri. Bagaimana kisahnya? Berikut aku ceritakan.

Cerita ini bermula dari sini. Dua tahun yang lalu aku dan temanku mendapat tugas training di Jepang selama tiga bulan. Baru berjalan dua pekan, di suatu malam, tiba-tiba perutku sakit luarbiasa. Dipake duduk nyeri, dipake berdiri cenat-cenut. Kalo ditekan nyerinya sangat terasa.

Pagi harinya, pengurus training berinisiatif membawaku ke rumah sakit untuk check. Hasil diagnosa menunjukkan aku kena usus buntu dan harus dioperasi. Meskipun bahasa jepangku masih gratul-gratul, aku beranikan untuk tanya, “berapa lama harus opname?” ” Ya, kira-kira dua mingguan lah.” Jawab pengurus training itu. Waduh. Seketika itu pikiranku dah melayang jauh gak karuan. Bayangkan, dua minggu di rumah sakit, tanpa keluarga, jauh dari sahabat, sekelilingku orang-orang jepang. Siapa yang menemaniku?Bagaimana berkomunikasi dengan mereka? Mahir bahasa jepang juga belum. Dua minggu bukan waktu yang cukup belajar bahasa rumit itu. Apalagi aku mulai dari tingkat dasar. Tapi, inilah kenyataan yang harus aku hadapi. Mau gak mau aku harus melewatinya.

Masa Operasi

Aku pikir operasi ini akan mudah kulalui. Tinggal berbaring, bius total lalu terlelap. Ternyata tidak. Dokter hanya melakukan bius lokal/partial. Ini artinya operasi ini dilakukan dalam kondisi sadar. Hanya bagian tertentu yakni perut dan sekitarnya yang dibius. Setelah bius bekerja, bagian perut tidak merasakan apapun. Seakan syaraf itu mati. Dipegang gak terasa, dicubit pun gak sakit sama sekali. Operasi pun siap dijalankan. Setengah jam berlalu. Operasi belum menandakan akan selesai. Ketika ditanya “Itsu owarimashuka?” ( kapan operasinya selesai?) salah satu suster menyahut “Chotto dake.” (Sebentar lagi). Eh..eh.. mungkin maunya menghibur tapi kenyataannya masih lama. Selang satu jam kemudian. Tiba-tiba perutku sudah mulai agak terasa nyeri. “keliatannya biusnya dah mulai berkurang” pikirku. Pertanyaan yang sama aku layangkan kembali sambil sedikit mengaduh “onaka ga ittaii” (perut sakit). Untuk menenangkan diriku, mulutku terus bergetar sambil  dzikir padaNya, berharap Allah akan memberikan kemudahan dan hasil yang terbaik. Rasa sakit ini belumlah seberapa. Teringat dengan sebuah firman Allah Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (QS. Al Baqarah: 214). Aku belumlah seperti generasi terdahulu, kesengsaraan dan berbagai cobaan belum menghampiriku. Operasi ini belumlah seberapa. Aku harus melewatinya. Never give up! Alhamdulillah, akhirnya selesai. Masa pengobatan pasca operasi pun dimulai.

Temen-temen se-angkatan training mulai berkunjung. Rata-rata mereka berasal dari negara asia. Beberapa diantaranya dari India, China, Pakistan, Thailand dan tentunya dari Indonesia. Sebelummnya tidak terlalu kenal, namun semenjak sakit ini jadi saling kenal. Bisa jadi inilah salah satu ibrah (hikmah) sakit.

Hikmah Allah Memberi Sakit

Waktu dua minggu bukanlah waktu yang pendek. Bagi orang yang sendirian tentu beda. Terasa sangat lama. Selama itulah aku mencoba merenungi, bertafakkur. Mencoba menggali pikiran-pikiran positif dalam diriku. Mengapa Allah Memberiku sakit? Ternyata kalau  kita renungi, tidak ada yang salah dengan apa yang Allah berikan pada kita. Sekalipun itu sakit. Kenapa?

Boleh jadi, Allah memberiku sakit. Karena bangunan keimananku sedang mengalami fase keterpurukan. Labil dan cenderung menurun. Jika ini dibiarkan, tidak menutup kemungkinan aku akan mengalami penurunan keimanan yang tajam hingga akhirnya tidak dapat kembali. Tetapi Allah memberikan teguran padaku. Agar aku sadar dan bangkit lagi

Boleh jadi, Allah memberiku sakit. Karena Allah ingin mengujiku sampai dimana tingkat keimananku. Sebagaimana firman Allah QS. 29:2 Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? apakah aku berhasil atau tidak? apakah aku menghadapinya dengan keluh kesah?apakah aku akan berakhir seperti yang dialami kaum-kaum terdahulu?hancur karena adzab Allah?

Boleh jadi, Allah memberiku sakit. Agar aku tidak menjadi orang yang sombong dan merasa hebat. (Karena sebelumnya aku tidak pernah sakit separah ini). Agar aku merasa bahwa inilah aku, seorang hamba yang kecil, tidak ada apa-apanya di hadapan Allah.

Boleh jadi, Allah memberiku sakit. Karena dengan merengguk sedikit penderitaan ini hubunganku dengan Allah semakin kuat. Selayaknya hubungan antara hamba dan Penciptanya. Dengan hubungan yang kuat ini pengingatanku kepada Allah senantiasa ada. Dimana pun aku berada.

Boleh jadi, Allah memberiku sakit. Agar aku dapat merasakan penderitaan saudaraku muslim yang lain. Penderitaanku belumlah seberapa dibanding mereka. Nyawa mereka dipertaruhkan. Antara hidup dan mati. Seperti apa yang dialami Saudaraku muslim Palestina, Afghanistan, Irak dsb.

Boleh jadi, Allah memberiku sakit. Agar aku menjadi orang yang bersyukur. Bukan malah lupa. Menyadari dengan sebenar-benarnya. Siapakah yang memberiku sehat? Dan kepada siapa aku harus minta pertolongan?

Boleh jadi, Allah memberiku sakit. Karena inilah bentuk kasih sayang Allah padaku. Allah telah meringankan bebanku. Mengapa aku sakit di Jepang?di tengah-tengah training yang aku ikuti? Disinilah Allah telah berlaku sayang padaku. Banyak hikmah yang aku peroleh.

Yakinlah, sesuatu yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Begitupun sebaliknya. Karena Allah SWT maha tahu segala-galanya.

Wallahua’lam.

About Admin (sd)
Seorang manusia pembelajar dan pemburu hikmah

One Response to Ketika Allah Memberiku Sakit

  1. sakit itu berarti memberi kesempatan untuk para dokter atau tabib untuk mendapatkan jalan rizki,,,,,heheheheh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: