KETEGARAN AYYUB as

Pada masanya, Nabi Ayyub alaihissalam hidup bergelimang dalam kenikmatan duniawi, kekayaan yang berlimpah, mengepalai keluarga besar yang hidup rukun dan damai. Namun, keadaan yang demikian ini tidak membuat Nabi Ayyub tersilau matanya oleh kekayaan yang ia miliki dan tidak tergoyahkan imannya oleh kenikmatan duniawi yang saat itu beliau rasakan. Siang dan malam Ayyub senantiasa berada di mihrabnya melakukan sholat, sujud dan tasyakur kepada Allah atas segala pemberian-Nya. Mulutnya tidak berhenti menyebut nama Allah berzikir, bertasbih dan bertahmid.

Suatu ketika Iblis berencana menguji keistiqomahan Nabi Ayyub AS dengan berbagai cara licik. Dimulai dengan menghancurkan-luluhkan kekayaan Ayyub, hewan-hewan ternaknya  mati satu persatu sehingga habis sama sekali, kemudian disusul ladang-ladang dan kebun-kebun tanamannya yang rusak menjadi kering dan gedung-gedungnya yang terbakar habis dimakan api, sehingga dalam waktu yang sangat singkat Ayyub yang kaya-raya tiba-tiba menjadi orang miskin. Nabi Ayyub tetap istiqomah dalam pendiriannya. Ia berkata, “Ketahuilah bahwa apa yang aku telah miliki berupa harta benda, gedung-gedung, tanah ladang dan hewan ternak serta lain-lainnya semuanya itu adalah barang titipan Allah yang akan diminta-Nya kembali setelah aku cukup menikmatinya dan memanfaatkannya….” Karena telah gagal, kali ini iblis menggunakan cara lain yaitu membunuh putra-putra Ayyub dengan meruntuhkan gedung yang sedang dihuninya. “Allahlah yang memberi dan Dia pulalah yang mengambil kembali. Segala puji bagi-Nya, Tuhan yang Maha Pemberi dan Maha Pencabut.” Ucap Nabi Ayyub ketika mendengar peristiwa itu dan ia tetap tegar menghadapi iblis yang terus menggodanya.

Merasa gagal kedua kalinya, kali ini iblis diberi kesempatan oleh Allah untuk kembali menguji Ayyub dengan memberinya sakit kulit di sekujur tubuhnya. Kulitnya berbintik, badannya makin lama makin kurus. Ia pun dijauhi oleh orang-orang disekitarnya karena takut tertular. Pada mulanya, istri Nabi Ayyub dengan tekun merawatnya, namun karena iblis terus membujuk akhirnya ia pun berkeinginan meninggalkan suaminya itu. Sebab sudah tidak ada  lagi yang diharapkan darinya. Setelah ditinggalkan oleh isterinya  Nabi Ayyub tinggal seorang diri di rumah, tiada sanak saudara, tiada anak dan tiada isteri. Ia bermunajat kepada Allah dengan sepenuh hati memohon rahmat dan kasih sayang-Nya. Ia berdoa: “Wahai Tuhanku, aku telah diganggu oleh syaitan dengan kepayahan dan kesusahan serta siksaan dan Engkaulah wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.”
Allah menerima doa Nabi Ayyub yang telah mencapai puncak kesabaran dan keteguhan iman serta berhasil memenangkan perjuangannya melawan hasutan dan bujukan Iblis.

Itulah Nabi Ayyub yang tetap istiqomah dalam menjalankan keyakinannya kepada Allah SWT. Bagaimana dengan kita? Mari kita belajar dari kisah di tersebut. Wallahu a’lam. (sd)

About Admin (sd)
Seorang manusia pembelajar dan pemburu hikmah

2 Responses to KETEGARAN AYYUB as

  1. ummu tia says:

    Semoga qt bisa meneladani kesabaran nabi Ayub dlm menjalani ujian kehidupan yg diberikan Allah. Terutama ujian dlm menghadapi sakit…. Tetap istiqomah, dan teguhkan iman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: