Zuhud Para Ulama Kaya

Tidak semestinya zuhud itu diartikan dengan meninggalkan kenikmatan dunia secara total dan menjauhinya dengan berpakaian lusuh dan hidup miskin. Tidak pula diartikan hanya duduk diam di masjid, beribadah saja dan  bekerja hanya sekedar untuk makan. Lantas apa arti zuhud yang sebenarnya?

Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat demi kehidupan akhirat. Sedangkan Al-Hasan Al-Bashri beranggapan bahwa zuhud itu bukanlah mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, akan tetapi zuhud di dunia adalah engkau lebih mempercayai apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu. Keadaanmu antara ketika tertimpa musibah dan tidak adalah sama saja, sebagaimana sama saja di matamu antara orang yang memujimu dengan yang mencelamu dalam kebenaran.

Jadi jelaslah, indikator orang dikatakan zuhud itu ada tiga sebagaimana disampaikan oleh Iman Al Ghazali yaitu: pertama, tidak bergembira dengan apa yang ada dan tidak bersedih karena hal yang hilang. Kedua, sama saja di sisinya orang yang mencela dan mencacinya, baik terkait dengan harta maupun kedudukan. Ketiga, hendaknya senantiasa bersama Allah dan hatinya lebih didominasi oleh lezatnya ketaatan. Karena hati tidak dapat terbebas dari kecintaan. Apakah cinta Allah atau cinta dunia.

Berguru Pada Ulama Kaya

Sebagian dari sahabat Rasulullah adalah orang-orang kaya. Abu Bakar asshidiq, Utsman bin affan, Abdurrahman bin ‘Auf bahkan istri pertama Rasulullah, Khadijah termasuk di dalamnya. Mereka tidak hanya tangguh memegang iman di puncak ujiannya, mengumpulkan banyak harta tetapi juga mampu zuhud terhadap dunia. Harta tidak membuat mereka lupa terhadap Allah, tidak menjadikan mereka melakukan segala cara diluar syariat Islam dalam mengumpulkan harta.

Sepanjang abad-abad baru yang dilalui Islam, agama ini tak kekurangan orang-orang shalih yang kaya raya. Dari tabi’in, tabi’it tabi’in serta salafusshalih setelah itu.

Sebut saja Ibnu Hajar Al Asqolani. Hasil karyanya yang monumental seperti Fathul Bari dan Bulughul Maram. Lebih dari 20 tahun Ibnu Hajar menjabat sebagai qadhi (hakim agung) dan tak sekalipun ia menerima hadiah dari penguasa atau orang -orang yang berperkara. Ia dikenal dengan sikap wara’nya. Hanya menerima dan mengambil harta yang bersih dan sangat menjauhi sesuatu yang berbau risywah, upeti dan hadiah. Suatu ketika saat ia sedang dalam perjalanan dikawal oleh ratusan pengawal dengan menaiki kereta kencana yang indah dan dengan memakai pakaian yang menawan tiba-tiba dihadang oleh seorang Yahudi miskin, kumuh dan kusut. Yahudi itu berkata, “Berhentilah, hai Ibnu Hajar!” Aku mau bertanya. Bukankah Nabimu berkata, “Dunia itu penjara dan surga bagi orang-orang kafir?” Tapi tampaknya NabiMu salah. Buktinya engkau begitu kaya raya, kemana-mana naik kereta mewah, pengawalmu banyak. Sedangkan aku lihatlah! Aku begitu miskin. Jadi dunia bukanlah surga bagi orang-orang kafir seperti aku.”

Ibnu Hajar menjawab, “Sabda Nabi saw tidak salah. Semua kekayaanku, kemewahan yang aku miliki masih aku anggap sebagai penjara bagiku jika dibandingkan dengan surga Allah yang maha luas dengan segala kenikmatannya. Sedangkan kemiskinanmu,hai orang Yahudi, itu adalah surga bagimu dibanding neraka Jahannam yang akan mengazabmu kelak.”

Contoh lain ialah Al Laits bin Saad Al Fahmi, seorang ulama paling berpengaruh di Mesir. Dia seorang periwayat hadits yang terkenal. Di kesempatan lain Imam Syafi’i pernah berdiri di sisi kubur Al Laits seraya berkata, “Demi Allah wahai Imam, engkau telah mengumpulkan empat sifat yang tidak dimiliki oleh ulama lainnya: ilmu, amal, zuhud dan kedermawanan”.  Berapa penghasilan Al Laits per hari? Muhammad bin Ramh salah seorang sahabatnya berkata, “80 ribu dinar dalam setahun.” Atau setara dengan 128 milliar rupiah. Riwayat lain menyebutkan 100 ribu dinar per tahun. Itu artinya setiap hari ia berpenghasilan sekitar 219 dinar yang setara Rp 350,400,000. Penghasilan yang sangat fantastis. Terlebih di zaman itu, dimana dunia bisnis , belum seberagam dan sehebat sekarang.

Begitulah, ketika kecerdasan, keluasan ilmu dan kekayaan harta serta keluhuran akhlak menyatu dengan pemahaman yang benar terhadap harta dan dunia, maka ia pasti akan melahirkan kebaikan. Zuhud bukanlah tidak memiliki apa-apa tetapi zuhud adalah apabila seseorang tidak dikuasai atau dikendalikan oleh sesuatu yang ia miliki.  Oleh karenanya wajar apabila Allah swt telah mewariskan dunia ini kepada orang-orang yang beriman, untuk mengelolanya dengan baik. Maka orang-orang beriman itu tentu lebih berhak untuk memiliki segala isinya, menguasainya untuk tujuan dan kepentingan yang lebih baik. Ingat, jadikan dunia berada di tangan bukan di hati. Wallahu’alam. (sd)

About Admin (sd)
Seorang manusia pembelajar dan pemburu hikmah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: