Membingkai Hawa Nafsu

Nafsu menurut Ibnul Qayyim Al jauziyah adalah kecondongan jiwa kepada perkara-perkara yang selaras dengan kehendaknya. Kecondongan inilah yang secara fitrah sudah melekat dalam diri manusia ketika diciptakan oleh Allah Subhanahuwata’ala. Kecondongan membuat manusia menjadi mahkluk dinamis atau selalu bergerak dan berubah sesuai yang dikehendaki, bukan sebagai makhluk statis sebagaimana malaikat. Sepanjang hidupnya hanya mengerjakan satu hal sesuai dengan tugasnya yang diperintahkan Allah. Tidak ada keinginan untuk berbuat lainnya.

Kecondongan jiwa atau nafsu itu bisa berupa kemauan untuk survive (bertahan) hidup dengan cara makan dan minum, bekerja untuk mencari nafkah, menjalin hubungan dengan orang lain hingga keinginan terhadap lawan jenis (biologis). Dengan nafsu membuat kehidupan manusia menjadi lebih baik. Karena nafsu mampu mendorong manusia untuk mencari jalan keluar sebuah masalah, membangkitkan dari kegagalan dan keterpurukan, menjadi stimulus (pemantik) manusia agar berlomba-lomba menjadi yang terbaik, dan sebagainya. Maka dari itu kita tidak boleh mencela nafsu secara berlebihan dan menurutinya secara bebas. Namun demikian perlu dipahami bahwa nafsu Mempunyai manfaat positif manakala kita mampu mengendalikannya. Sebaliknya, berdampak negatif ketika kita membiarkannya tanpa batas. Sebagaimana hadits rasulullah “Tidaklah sempurna iman salah seorang diantara kalian hingga hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim). Dari hadits tersebut tersirat bahwa, manusia dikatakan beriman secara sempurna apabila hawa nafsu dalam dirinya dibatasi oleh nilai-nilai Al Qur’an dan As Sunnah.

Saudara, tentu kita pernah membaca biografi atau sejarah hidup para sahabat di zaman Rasulullah dulu. Masing-masing dari mereka mempunyai kemampuan dan kelebihan. Abdurrahman bin auf seorang pedagang sukses dan kaya raya, Khalid bin walid panglima perang yang selalu menang karena ketangguhan dan kecerdikannya, Salman al farisi gubernur madyan kala pemerintahan Umar bin khattab. Apa yang menarik dari mereka? Nafsu mendorong mereka berbuat semaksimal mungkin sesuai dengan kemampuan yang mereka miliki. Nafsu membuat Abdurrahman bin auf tidak kenal putus asa dalam berdagang hingga dia kaya raya, nafsu mendorong khalid bin walid memenangkan setiap pertempuran yang dia pimpin hingga dia ditakuti oleh setiap lawannya dan dijuluki pedang Allah, Nafsu men-stimulus jiwa kepemimpinan Salman al farisi hingga dia dicintai rakyatnya. Namun, ada satu hal yang luarbiasa dalam diri dari ketiga sahabat tersebut. Yaitu bekal keimanan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya yang menjadikan mereka mampu menundukkan hawa nafsunya agar tidak melenceng dari nilai-nilai Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW. Iman kepada Allah membuat diri Abdurrahman bin auf tidak lupa daratan. Dengan kekayaannya ia selalu berinfaq dalam jumlah yang tidak sedikit selama perang yang diikutinya. Bahkan puncaknya, ia rela meninggalkan semua kekayaannya demi hijrah ke Madinah mengikuti Rasulullah SAW. Iman kepada Allah dan Rasulnya tidak menjadikan Khalid sombong dan congkak, merasa paling hebat dan tangguh diantara yang lain. Bahkan ia rela melepas kedudukannya sebagai panglima perang atas permintaan khalifah Umar dikarenakan suatu alasan. Bagi khalid, perang yang ia ikuti bukan untuk Umar tapi semata-mata karena Allah Ta’ala. Iman yang tinggi kepada Allah dan RasulNya, tidak membuat Salman semena-mena terhadap rakyatnya, tidak memperkaya dirinya namun tetap menjadi pemimpin yang adil dan jauh dari hidup glamour. Buah keimanan ini terbukti, pada suatu hari ketika Salman sedang berjalan-jalan di pasar dengan mengenakan pakaian seperti rakyat pada umumnya, ia dimintai tolong oleh seorang wanita membawakan barang hasil jual belinya. Di tengah jalan, wanita tersebut baru sadar setelah diingatkan orang lain bahwa orang tersebut adalah Salman sang gubernur. Seketika itu, ia meminta maaf dan mengambil barangnya kembali. Namun, Salman tidak lantas menyerahkannya, Ia tetap mengantarkan barang tersebut sampai tujuan karena ia telah ber akad dengan wanita itu.
Itulah figur sahabat hasil pendidikan Rasulullah. Bagaimana dengan kita?apakah nafsu telah membuat diri kita semakin dekat dengan Allah? Atau bahkan semakin memperlebar jarak kita dengan Allah? Masih ada kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri sebelum ajal menjemput kita. Wallahu a’lam. (sd)

About Admin (sd)
Seorang manusia pembelajar dan pemburu hikmah

One Response to Membingkai Hawa Nafsu

  1. Jamil says:

    Reblogged this on Pelajarkebumen's Blog.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: