Ketika Kita Sedang Marah

Amarah adalah sifat kodrati yang melekat pada diri manusia.  Oleh sebab itu manusia tidak dapat terhindar dari marah. Amarah tidak dapat dianggap sebagai aib, tidak pula sebagai penyakit. Tetapi hal yang tidak dibenarkan adalah amarah dalam kebatilan, amarah yang dzalim, amarah yang berlebihan dan amarah yang lambat redanya.

Jika amarah telah menjadi bagian yang mendominasi dalam diri seseorang maka pada saat itulah hidupnya lebih banyak merusak ketimbang memperbaiki. Lebih banyak menghancurkan daripada membangun.

Satu amarah yang berlebihan dan tidak pada tempatnya kadang juga bisa merusak hubungan antar tetangga, antara suami dan istri, antar kawan atau bahkan antar saudara. Dalam kondisi marah, seseorang bisa berbuat diluar batas kemanusiaannya. Ia bisa memukul, melukai, mencaci maki lebih buruk lagi bisa membunuh. Kerap kita mendengar dari media TV atau koran kasus orang yang tega membunuh lantaran hal sepele seperti diejek, dicacimaki, dsb. Na’udzubillah.

Makanya, Rasulullah mengingatkan kita dalam sebuah hadits riwayat Bukhari-Muslim, beliau bersabda “Orang kuat itu bukanlah orang yang menang gulat tetapi orang kuat adalah orang yang dapat mengendalikan dirinya pada saat marah.” Senada dengan pesan  Rasulullah, Khalifah Umar bin Abdul Azis pun pernah berpesan kepada gubernurnya, “Janganlah kamu menghukum pada saat marah. Jika kamu marah kepada seseorang maka tahanlah dia. Jika kemarahanmu telah reda maka keluarkanlah dan hukumlah dia sesuai dengan dosanya…..”

Ketika kita sedang marah, nampak secara lahiriah ada perubahan di anggota badan kita. Muka kita menjadi berwarna merah kehitaman, kerasnya getaran di jemari, keluarnya gerakan dan ucapan yang tidak normal hingga muncul buih di mulut, mata merah dan hidung kembang kempis. Said Hawwa berkata, “Seandainya orang yang marah melihat wajahnya yang buruk ketika marah niscaya amarahnya akan reda karena malu terhadap gambarnya yang buruk. Amarah yang berlebihan juga mempunyai pengaruh dalam hati. Kita merasa senang terhadap kesulitan orang lain, sedih melihat kegembiraan orang lain, dengki, hasud, ingin menyebarkan aib orang lain, dsb.

Dalam buku Mensucikan Jiwa (Intisari Ihya’ Ulumuddin Al Ghazali) karya Said Hawwa, ada lima perkara untuk mengobati marah: Pertama, hendaklah ia merenungkan berbagai nash/dalil yang berbicara tentang keutamaan menahan marah, memaafkan, santun dan bersabar sehingga muncul keinginan untuk mendapatkan pahalanya. Kedua, hendaklah mengancam dirinya dengan hukuman Allah. Ketiga, hendaklah ia memperingatkan dirinya akan akibat permusuhan dan dendam, akibat amarah di dunia dan murka Allah. Keempat, hendaklah ia merenungkan betapa buruk gambar dirinya pada saat marah, merenungkan buruknya amarah dalam dirinya. Kelima, hendaklah ia merenungkan sebab yang mendorongnya untuk melampiaskan dendam dan menghalanginya dari menahan marah. Wallahua’lam. (sd)

About Admin (sd)
Seorang manusia pembelajar dan pemburu hikmah

4 Responses to Ketika Kita Sedang Marah

  1. hmcahyo says:

    akh tempat nyingkat URL ini

    http://hmcahyo.co.nr/

    coba buka… ntar bisa langsung ke blog ku

    situs peyedianya http://co.nr

  2. Admin says:

    Done….iya ternyata bisa…

  3. hmcahyo says:

    facebook buatan anak SMP Indonesia Muhammad Yahya Harlan

    http://www.salingsapa.com/photos/view/157819

  4. mandomanabu says:

    Allah bersama orang2 yang senang berbagi ilmu / pengetahuan demi kebaikan sesama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: