Hadirkan Optimis Itu Karena Allah Sayang Kita

Tubuh yang mulia itu pun berlumuran darah akibat lemparan batu para penduduk Thaif. Tidak hanya lemparan batu, cercaan dan hinaan pun menyertainya hingga kemudian rasulullah memutuskan untuk meninggalkan Thaif. Dalam perjalanan pulang, Rasulullah Saw. menjumpai suatu tempat yang dirasa aman dari gangguan orang-orang jahat tersebut. Di sana beliau berdoa begitu mengharukan dan menyayat hati. Demikian sedihnya doa yang dipanjatkan Nabi, sehingga Allah mengutus malaikat Jibril untuk menemuinya.

Setibanya di hadapan Nabi, Jibril memberi salam seraya berkata, “Allah mengetahui apa yang telah terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu.” Sambil berkata demikian, Jibril memperlihatkan para malaikat itu kepada Rasulullah Saw.

Kata malaikat itu, “Wahai Rasulullah, kami siap untuk menjalankan perintah tuan. Jika tuan mau, kami sanggup menjadikan gunung di sekitar kota itu berbenturan, sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung ini akan mati tertindih. Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan, kami siap melaksanakannya.”. Mendengar tawaran malaikat itu, Rasulullah Saw. dengan sifat kasih sayangnya berkata, “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.”

Harapan Rasulullah terhadap keturunan orang-orang yang menolak dakwah beliau agar kelak menyembah Allah adalah sikap optimisme di tengah dakwah yang begitu sulit, dengan kondisi yang berat tidak hanya bagi jiwa tetapi juga raga.

Rasa optimisme inilah yang selalu memompa semangat Rasulullah untuk terus berdakwah. Rasa ini begitu hebatnya sampai mengalahkan rasa sakit di tubuh karena lemparan batu, rasa sakit hati karena dihina dan dicaci maki. Sebagaimana janji Allah “Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. 94:5-6). Jerih payah Rasulullah ini, akhirnya dibalas oleh Allah dengan memeluk Islam penduduk yang selama ini menentang dakwah Islam. Saat haji wada’ tercatat sekitar 124,000 orang.

Bagaimana cara rasulullah dan para sahabat menjaga rasa optimisme ini di setiap sendi kehidupan mereka? Kuncinya adalah kualitas keimanan mereka yang tinggi. Keimanan inilah yang selalu menjaga rasa optimisme dalam diri mereka agar senantiasa berkobar

Betapa tidak, keimanan ini menjadikan mereka lulus dari ujian yang diberikan Allah sebagaimana firmanNya “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”. Mereka menganggap bahwa cobaan dan tantangan hidup sebagai ujian untuk mengetahui tingkat keimanan sesorang.

Kedua, keimanan ini mengkondisikan jiwa untuk selalu optimis karena mereka percaya firman Allah QS. 94:5-6 yang telah disebutkan di atas.  Sesudah kesulitan ada kemudahan. Ada ujian tentu ada cara pemecahannya.

Ketiga, mereka  selalu menghadirkan usaha-usaha terbaik semampu mereka dalam menjalani hidup ini dan menyandarkan hasilnya (tawakkal) kepada Allah SWT sebagaimana firman Allah dalam QS 3:159 “…bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu[. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”

Keempat, rasa optimis itu tumbuh sebab mereka percaya bahwa jika lulus menghadapi ujian yang diberikan Allah maka baginya adalah surga. Sebagaimana firman Allah QS. 2:112 “(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Saudaraku, betapa mulianya derajat kita selaku muslim. Setiap yang kita lakukan tidak ada yang sia-sia. Di setiap aktivitas kita, di setiap sendi-sendi kehidupan kita ayat-ayat Allah SWT senantiasa hadir untuk memotivasi kita untuk terus berkarya, beramal dan beribadah. Oleh karena itu, kita harus selalu optimis dalam menjalani hidup ini betapapun beratnya cobaan yang akan kita hadapi. Yakinlah, Allah selalu bersama kita, karena Allah sayang kepada kita.(sd)    .

About Admin (sd)
Seorang manusia pembelajar dan pemburu hikmah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: